![]() |
Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene |
Pangkep, Sulawesi Selatan, 14 Desember 2024 – Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), yang digadang-gadang menjadi destinasi ekowisata unggulan, kini menjadi sorotan setelah terungkap temuan terkait dana Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp1,5 miliar dari PT Semen Tonasa. Dana yang dialokasikan untuk mengembangkan potensi wisata dan infrastruktur desa itu diduga tidak terealisasi sesuai perencanaan, menimbulkan amarah warga dan kekecewaan publik.
Fasilitas CSR: Bukti Gagalnya Komitmen Desa dan Tonasa
Dusun Bujung Tangaya, salah satu kawasan yang menjadi fokus pengembangan wisata alam desa, menerima dana CSR dari PT Semen Tonasa untuk membangun fasilitas pendukung. Namun, fasilitas yang ada kini tidak berfungsi dan menjadi simbol kegagalan tata kelola. Ketergantungan pada air tadah hujan membuat kawasan ini kehilangan daya tariknya sebagai destinasi wisata. Warga juga mengeluhkan minimnya perhatian pihak desa untuk memastikan keberlanjutan proyek tersebut.
“Fasilitas itu dibangun hanya untuk formalitas, tapi tidak ada dampaknya. Semua mati surya,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Mangrove dan Jalan Nelayan: Proyek Tak Tuntas yang Mencurigakan
Selain itu, program hutan mangrove yang digadang-gadang menjadi ikon ekowisata justru gagal total. Dana yang dialokasikan untuk program ini hanya menghasilkan deretan bambu liar, tanpa kehadiran pohon mangrove sebagaimana direncanakan. Kegagalan ini diduga akibat kurangnya pendampingan dari konsultan lingkungan dan buruknya pengelolaan proyek.
Proyek pembangunan jalan nelayan senilai ratusan juta rupiah juga tidak lepas dari sorotan. Warga mencurigai adanya manipulasi dalam volume jalan yang dibangun. Hasil pembangunan tidak sebanding dengan anggaran yang dikucurkan, memunculkan dugaan kuat adanya penyalahgunaan dana desa.
Bantuan Nelayan dan Beras: Alat Politik yang Tidak Adil
Ketidakadilan juga mencuat dalam distribusi bantuan nelayan. Warga menuding bantuan berupa alat tangkap dan sarana lainnya hanya diberikan kepada individu yang memiliki hubungan dekat dengan aparat desa.
"Yang benar-benar membutuhkan tidak mendapat apa-apa, sementara mereka yang punya hubungan khusus dengan pemerintah desa malah diutamakan," ujar seorang nelayan lokal.
Tidak hanya itu, distribusi bantuan beras juga menjadi sorotan. Warga mengungkapkan bahwa beras yang seharusnya diterima oleh keluarga miskin malah diberikan kepada pihak yang tidak berhak. "Banyak keluarga yang pantas menerima justru tidak kebagian, sementara orang-orang yang memiliki hubungan dengan kepala desa malah diberi. Ini sangat tidak adil," ujar salah seorang warga setempat dengan nada kecewa.
Farid Mamma: Ada Dugaan Manipulasi Dana Desa dan CSR
Farid Mamma, SH., M.H., pemerhati desa dan pakar hukum, mengutuk keras pengelolaan dana desa dan CSR yang diduga sarat manipulasi. “Dana CSR sebesar Rp1,5 miliar dari PT Semen Tonasa seharusnya dapat menjadi penggerak ekonomi dan pembangunan desa. Jika terbukti ada penyimpangan, ini merupakan pelanggaran serius terhadap Undang-Undang Desa dan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mengatur kewajiban CSR,” tegasnya.
Farid juga menyerukan agar aparat berwenang melakukan investigasi menyeluruh. “Praktik-praktik seperti ini tidak hanya merugikan masyarakat tetapi juga mencoreng kredibilitas desa dan perusahaan yang terlibat. Transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan untuk memastikan dana publik dan CSR digunakan sesuai peruntukannya,” tambahnya.
Warga Menuntut Keadilan
Kekecewaan warga Desa Bulu Cindea semakin memuncak. Beberapa warga yang meminta identitasnya disembunyikan menyatakan, hubungan kekerabatan antara kepala desa dan oknum aparat menjadi alasan minimnya tindak lanjut dari laporan mereka. "Kami takut berbicara, karena tahu semua seperti diam di tempat," ungkap salah seorang warga.
Kini, Desa Bulu Cindea menjadi potret kelam kegagalan pengelolaan dana desa, bantuan CSR, dan distribusi bantuan lainnya. Jika masalah ini tidak segera dituntaskan, Desa Bulu Cindea akan terus menjadi cermin gelap dari ambisi tanpa tindakan nyata.
@mds